Jajan itu satu paket sama sekolah. "Sekolah yo kudu jajan, rak jajan yo bocah moh sekolah", kata Mbok Darmi. Iya kah? Bisa iya bisa tidak.
Makan adalah kebutuhan pokok. Ortu bekerja siang malam demi keluarga bisa makan. Terutama untuk anak-anak, ortu berupaya memenuhi kebutuhan makan dan sekolahnya. Ironinya, uang yang dialokasikan untuk kebutuhan tersebut tidak sampai kepada esensinya. Yang seharusnya dibelikan makanan yang menyehatkan dan menunjang anak selama bersekolah justru berwujud jajanan kurang gizi.
Jajan atau makanan ringan yang seharusnya menjadi penyokong energi belajar berubah menjadi penguras energi. Fokus utama bukan belajar, tapi jajan. Gak paham pelajaran gak papa asal bisa jajan. Gilanya, gak makan (sarapan) gak papa asal bisa jajan. Loh, jadi jajan itu apa?
Bisa njajan sementara kebutuhan rumah tangga keteteran adalah hal yang bertolak belakang. Menurut saya ini soal prioritas dalam memenuhi belanja rumah tangga. Ortu seyogyanya dapat mengatur hal ini agar tidak senantiasa njagakke bansos sembako maupun PKH.
Bagaimana caranya? Kurangi kebiasaan jajan.
Bagaimana caranya? Kenyangkan
Bagaimana caranya? Buatkan sarapan dan bawakan bekal
Bagaimana caranya? Paksa
Bagaimana caranya? Buat sistem dan lingkungan
Di soal terakhir ini sekolah turut bertanggung jawab atas perilaku jajan yang anak lakukan. Benar sekolah tidak memaksa. Tapi sekolah tetap 'berjasa', atas apa yang menjadi perilaku siswa selama di sekolahnya.
Bila sekolah mau mengatur, mendorong, memfasilitasi, kebiasaan sarapan dan bawa bekal dari rumah, saya yakin tentu anak akan welcome dengan hal ini. Tapi jika sekolah berpangku tangan dan menyerahkan hal tersebut sebagai urusan pribadi maka selamanya rumah tangga akan terjebak di persoalan ini. Bisa jajan, tapi nunggak bayar SPP. Bisa jajan, tapi mengharap dapat PIP, bisa jajan tapi tak mampu beli buku dan kebutuhan belajar lainnya.