Rabu, 01 Juli 2026

Sekolah yo kudu jajan, rak jajan yo bocah moh sekolah

Jajan itu satu paket sama sekolah. "Sekolah yo kudu jajan, rak jajan yo bocah moh sekolah", kata Mbok Darmi. Iya kah? Bisa iya bisa tidak.

Makan adalah kebutuhan pokok. Ortu bekerja siang malam demi keluarga bisa makan. Terutama untuk anak-anak, ortu berupaya memenuhi kebutuhan makan dan sekolahnya. Ironinya, uang yang dialokasikan untuk kebutuhan tersebut tidak sampai kepada esensinya. Yang seharusnya dibelikan makanan yang menyehatkan dan menunjang anak selama bersekolah justru berwujud jajanan kurang gizi.

Jajan atau makanan ringan yang seharusnya menjadi penyokong energi belajar berubah menjadi penguras energi. Fokus utama bukan belajar, tapi jajan. Gak paham pelajaran gak papa asal bisa jajan. Gilanya, gak makan (sarapan) gak papa asal bisa jajan. Loh, jadi jajan itu apa?

Bisa njajan sementara kebutuhan rumah tangga keteteran adalah hal yang bertolak belakang. Menurut saya ini soal prioritas dalam memenuhi belanja rumah tangga. Ortu seyogyanya dapat mengatur hal ini agar tidak senantiasa njagakke bansos sembako maupun PKH.

Bagaimana caranya? Kurangi kebiasaan jajan. 

Bagaimana caranya? Kenyangkan

Bagaimana caranya? Buatkan sarapan dan bawakan bekal

Bagaimana caranya? Paksa

Bagaimana caranya? Buat sistem dan lingkungan

Di soal terakhir ini sekolah turut bertanggung jawab atas perilaku jajan yang anak lakukan. Benar sekolah tidak memaksa. Tapi sekolah tetap 'berjasa', atas apa yang menjadi perilaku siswa selama di sekolahnya.

Bila sekolah mau mengatur, mendorong, memfasilitasi, kebiasaan sarapan dan bawa bekal dari rumah, saya yakin tentu anak akan welcome dengan hal ini. Tapi jika sekolah berpangku tangan dan menyerahkan hal tersebut sebagai urusan pribadi maka selamanya rumah tangga akan terjebak di persoalan ini. Bisa jajan, tapi nunggak bayar SPP. Bisa jajan, tapi mengharap dapat PIP, bisa jajan tapi tak mampu beli buku dan kebutuhan belajar lainnya.

JAJAN, KEBUTUHAN ATAU PERILAKU?

Di tengah badai ekonomi yang tak menentu para ortu berupaya bagaimana agar beras bisa dimasak, tidur bisa nyenyak, dan bisa mbayari sekolah anak. 

Menariknya, Salah satu pengeluaran terbesar dalam rumah tangga adalah jajan anak. Bahkan lebih tinggi dari biaya pendidikan anak itu sendiri. Buat yang belum menikah dan punya anak, ni ku kasih wawasan buat jadi bahan finansial planning kalian. 

How come? Kita simulasikan dulu. Saya ambil contoh keluarga dengan 2 anak kelas 4 dan 1 SD di Wedung City.

Biaya makan untuk 2 org dewasa dan 2 anak SD diperkirakan 800rb/bulan dengan lauk tahu tempe, sesekali ayam. Pengeluaran Bulanan Listrik dan air 200rb. Internet 200rb. Bensin dan servis motor 250rb. Iuran kampung 50rb. Total semuanya adalah Rp 1,4jt

Biaya SPP SD Swasta 25rb, sedekah 1rb/hr. Jajan 7rb/hr. Siangnya ngaji TPQ, jajan 4rb. SPPnya 25rb/bulan, sedekah 1rb/hr. Malamnya ngaji kampung, jajan 2rb, kamisan 2rb. Jadi totalnya, Biaya SPP+dll= 108rb/bulan dan jajannya, 325rb/bln. Total 433rb x 2 anak = 866rb.

Itu sdh dianggap pengeluaran terminim. pol irit. sementara anak usia SD yang lain bisa jajan 15-25rb per hari dan belum termasuk es tung tung lewat, beli buku, dll. 

Dari deskripsi di atas kita bisa dapati biaya jajan anak bahkan 4x lipat biaya sekolahnya. 

Jajan anak mencapai 650rb. 25% dari total pengeluaran rumah tangga. Apakah ini normal? di beberapa kasus bahkan mencapai 30-40%-nya. Bagi saya ini tidak wajar dan harus ada telaah mengingat isu yang beredar adalah biaya sekolah mahal dan ekonomi sulit. Ada di bagian mana pos pengeluaran anak itu terkuras.

Kita semua tidak menampik bahwa situasi ekonomi negara tidak sedang baik-baik saja. Itu adalah PR besar pemerintah untuk segera membenahinya. Tetapi jadi semakin parah apabila para orang tua tidak membereskan pos pengeluaran dari rumah

Saya mengajukan pertanyaan nyleneh, "Jajan itu kebutuhan atau perilaku?".

Kalau kebutuhan, kenapa tidak masuk di pos makan, dan apakah benar sebutuh itu?. Kalau perilaku, kenapa hal ini seolah wajib bahkan dapat 'mengganggu' stabilitas ekonomi rumah tangga. Anak bisa jadi tidak mau sekolah bila sakunya kurang. Ortu mengeluh anak jajannya banyak. 

Saya kira pembaca sekalian setuju bila jajan adalah perilaku. Perilaku jajan bisa dikendalikan manakala ortu mau sedikit repot untuk kedepannya mewujudkan stabilitas ekonomi rumah tangga.