Rabu, 27 Januari 2021

KEBLOWOK


Aku ingin mengulas, menceritakan, dan menarasikan kisah dan profil temen-temen kuliahku. Soalnya, selain mereka itu yunik, temen kelasku cuma 17 biji. Ya ampun, biji semongko kali ya. Tarik, sees!! Itung-itung buat 'manaqib' lah. Kali aja para fansnya mbesok-mbesok mau baca.

 

Dan di antara mereka ada satu nama yang sungguh layak untuk kalian ketahui. Dia bernama Siti Noor Rohmah. Noor "O"nya dua. Mungkin karena itu dia rada telmi. coba kalau O nya satu aja. Ya tetep aja telmi. wkwk

 

Haduh.. belum apa-apa kok aku udah bully ya. wkwk. Tenang, Ji. Aku nulisnya pakai cinta ini. udah.. ketawa aja.. gosah spaneng. Oh ya.. belakangan Rohmah dipanggil Kaji oleh temen-temen gara-gara dia suka ngeyel kalau dikasih tahu. palagi nama akun fb nya pake embel-embel Sayyidah macam ahlul bet saja dia. Yodah, buat menghargai angan-angannya, kami menggelarinya dengan sapaan Kaji.

 

FYI Rohmah itu orang pertama yang aku minta nomor telponnya saat pertama masup kuliah. Aku mau tanya-tanya soal "hari kemarin".

 

Jadi waktu itu kan ada 2 hari matrikulasi mahasiswa baru. Nah, hari pertama aku ga masup karena ada deh.. Makanya.. hari kedua aku kaya orang o'on. temen-temen udah bisa bercanda satu sama lain. kek udah akrab gitu. lah aku ga kenal siapa-siapa. udah gitu aku datang telat pula. Ya aku diem aja. Jaim dong.

 

Ada satu kenangan menggelikan waktu kami pergi ke Jepara. Jadi ada seorang temen dikabarkan mogok kuliah karena mau pergi ke Batam. Ya Awloh.. Kuliah baru dapet satu semester main minggat aja. sakit hati ini bang.. sakit.. karena kita di kelas cuma 17 biji itu tadi temen kuliah udah kaya keluarga aja. penuh perhatian dan kasih sayang. Makanya kami punya inisiatip buat besuk dia. bukan buat bujuk tapi kami maksa dia buat balik kuliah lagi. wkwk sadis.

 

Kembali ke Kaji Rohmah. Bertolak dari kampus kami menuju Batealit, ke rumahnya Pak Alpin. Nah, Rohmah itu boncengan sama Diah. Cowo bonceng cowo, cewe bonceng cewe. Syra’i banget lah pokoknya. 

 

Sampe tiba di Karangnongko, perbatasan Kudus-Jepara, Motore Diah njublek di blowokan. Secara waktu itu cuaca mendung kelabu, jalan penuh lubang dan kenangan. eh. genangan. Tak ayal Diah dan Rohmah jatuh ndelosor tertimpa motornya. 

 

Aku bingung mau ketawa apa kasihan. Soalnya, prosesi jatuhnya itu lucu banget. wkwk. Kaya slow motion gitu. DIah juga sempat bilang E.. E.. E.. lalu jatuh karena kakinya gak gaduk jagangi. Jadi yg lain nyebut ya awloh ya awloh.. aku malah masih cengengesan nahan ketawa. 

 

Beruntung mereka tidak terluka . cuma shock aja gitu. Jadi aku gak dosa-dosa banget tertawa saat mereka terjatuh. wkwk. aku dan topik itu tepat berada di belakang mereka berdua. Jadi tahu persis kronologi bagaimana dia jatuh serta detil mimik wajah mereka.

 

Kemudian kami melanjutkan perjalanan, karena penguasaan medan dan skill berkendara cewe masih minim - kalau tidak dibilang mengkhawatirkan.- aku pun mboncengke Kaji. Di jalan itu Kaji diem terus. Aku menduga dia masih shock atas kejadian tadi. 

 

AKupun berinisiatif untuk mencairkan suasana.

 

“Masih shock, Ji?”

“Enggak kok”

“Lha kok diem gitu”

“Enggak aku nggak papa?”

“Bener ya nggak papa”

“Iya”

 

waktu aku melewati jendilan kecil, tiba-tiba dia kaget. “Lah, jare gak popo kok keweden gitu”, kataku. Kerjain ah.. “Tenang ji.. tak boncengke aman..”

 

Lalu setiap melewati jendilan aku sengaja memental-mentalkan jok motor sambil cengengesan. tujuanku biar si kaji ini hilang traumanya. tapi dia malah ketakutan nggak karuan. Temen-temen di belakang menyusul dan ikut ketawa melihat ekspresi kaji. 

 

Beruntung dia nggak muntah-muntah ketika sampai lokasi. dan karena hal itu. waktu pulang ia kapok dan tak mau lagi aku boncengke. wakakak


Minggu, 24 Januari 2021

Wengi wingi pancen wangi



Wengi iku Paklik ngabari dene simbahku sing gerah kudu berobat. Aku matur bapak. Njuk bapak ngutus aku supaya nemoni Pak Dokter perlu panggilan berobat. 

Jam 19.30 Tancap gas aku lunga Angin-angin nggone Dokter . Papane rodok sepi. Mungkin gegoro langite mendung tumiyun. Antriane sepi. Lagi lungguh dikuk, aku langsung mlebu ruang dokter. Banjur aku janjian karo Pak Dokter. Akhire dimupakati dene aku jemput kiyambake jam 21. Aku ndung mulih laporan bapak. Bapak paring aku duwit eketan loro, "Ki gawe mbayar dokter". Njuk duwite tak tampa. 

Lebar kuwi aku lungo pondok. Ngaji. Nuntut ilmu. Beno ilmu ora salah, yo tetep tak tuntut. Mekono ngendikane poro yai. E ora krasa wis munggah jam 20.45. Walah, aku sek kelalen yen ana janji karo pak dokter.

Ndung aku ngegas meluncur ning Angin-angin. Ealah jebul-jebul klinike wis tutup rapet. Ora ana wong babar blas. Tikus lewat yo ora ana. Wedhus ngeyup blas ora. Padalo, wengi kuwi angin bertiup kencang diiringi rintik hujan yang syahdu. Hmm.. Guling mana guling..

Akhire sang pangeran wangsul dengan tangan hampa. Aku mulih omah terusan. E omahe sepi. "Wis dung ning daleme simbah menawa", batin atiku. Bareng ngono aku takon Dora piye enake. Dora nyahut kon nakoake peta. "Tanyakan Peta.. Tanyakan Peta..", jare. "E.. Tobrol sekali dikau Dora", walesku.

Berhubung aku moh gelut karo Dora, aku manut wae. Terus aku oleh ilham kon langsung ning ndaleme simbah.

Brum brum.. Sawetara aku wis tekan Gribigan, daleme simbah. Ning kono sanak kadang pada kumpul. Ana Pakde, paklik, bulik, lan putra-putrine. Bapak uga ibuku ya wis ning kono.

Bapak mriksani aku kaya nemu ana sing aneh. O iyo. Kabeh pada nunggu Pak dokter. Akhire aku crita apa anane tegese tragedi klinik tutup gasik sahingga aku ora gandeng Pak dokter.

Semono aku ngrasa nguciwakke para sedulur, terutama simbah kang gerah. Tinapi, Bapak ora dukani aku. "Yowis, sesok neh", bapak ngendika.


*****


Let sedina wayah wengi, bapak lan ibu ing ruang keluarga. Ibu nembe nglempiti sandangan dene bapak nembe fokus mriksani tv. Ujug-ujug bapak ndangu,

Bpk : "Fur"

Aku : "Nggih"

Bpk : "Kowe wingi ngulungi aku duwit?"

Bpk : "Duwit napa pak?"

Aku : "Wingi lho ning ndene mbahe kowe ngulungi duwit pora?"

Aku : "Oh, duwit kuwi. Sih utuh, pak" (Mlayu jupuk dompet. Tak tokno eketan loro)

Aku: "Niki, Pak "

Bpk : "Wis, ora popo. Yowis nak ngono. Aku cuma kelingan. Wingi aku mbok ulungi duwit po ora. Yen mbok nggo yo nggonen"

Aku: "Ha.."

Aku mlongo rodok suwe. Kira-kira 2 tahun lah. 

Aku: "Saestu, pak.,? Aseek.."

Eketan loro pun tak tampa kanti ikhlasing penggalih. Tak ambung duwite.. Hmm wangi.. Wingi wingi pancen wangi.


*) Begitulah Bapak. Kalau ngasih uang ke anaknya seenaknya sendiri. Piye? Penak to?

Rabu, 20 Januari 2021

Memaknai silaturahmi

 

Akhir Desember lalu aku pergi ke Juwana untuk mengunjungi kediaman seorang teman. Semenjak ia menikah dan bermukim di sana kami menjadi jarang bertemu dan bertukar kabar. Maka dari itu aku berencana untuk datang ke rumahnya. Lagi pula aku pernah punya janji untuk main ke sana namun belum juga terpenuhi. Dan inilah saat untuk membayarnya..

Perjalanan Wedung-Juwana dapat ditempuh dengan sepeda motor selama 2 jam. Sebuah perjalanan yang lumayan jauh. Tapi tak mengapa, aku memang berniat berkunjung, silaturahmi. Jadi hal yang berat menjadi terasa biasa saja.

Sesampai di sana aku disambut dengan hangat. Wajah kawan kami bersinar memancarkan kebahagiaan. Kami menanyakan kabar masing-masing dan ngobrol banyak tentang banyak hal dari keluarga, lingkungan setempat, hingga pekerjaan. 

Banyak hal yang semula kita tidak tahu menjadi diketahui, samar menjadi terang atau masalah yang pelik dapat terpecahkan. HIngga tak terasa sudah berjam-jam kami bertamu. Kami memang sama-sama doyan ngomong.

Berbicara dengan kawan lama itu seperti rekreasi. Melihat dia sehat tak ada yang kurang itu saja sudah membuat kita bahagia. Apalagi mendengar kesuksesannya. Sebagai kawan yang baik tentu kita ucapkan selamat dan ikut bergembira.

Begitu pula ketika ada kabar duka tentang dia, kita juga turut simpati dan berupaya melakukan sesuatu untuk sekadar mengurangi beban pikiran. Syukur-syukur bisa membantu mencarikan jalan keluar.

Nah, Silaturahmi merupakan salah satu ikhtiar kita untuk mengambil peran aktif menemukan kabar saudara kita. Kalau ia baik-baik saja, alhamdulillah. Kalau ia sedang susah ayo kita bantu.

Aku teringat seorang mbah yang main ke rumahku. Aku lupa namanya. Belakangan aku tahu kalau beliau itu saudaranya nenek dari ibuku. Persisnya aku tak paham, Ibu juga. Karena aku penasaran, saat itu aku ikut ‘njagongi’ si mbah. Aku bertanya nama dan alamatnya hingga kisah sewaktu mudanya. 

Jadi si Mbah ini sempat merasakan jaman penjajahan Jepang. Beliau dengan semangat menceritakan masa remajanya yang masuk menjadi tentara binaan Nippon. Iseng, aku memintanya untuk menyanyikan lagu Jepang. Dan rupanya si Mbah masih hafal lengkap dengan iramanya. 

Aku tertawa terhibur oleh nyanyian si Mbah meski tak paham apa arti dari lagu tersebut. Aku hanya terpaku heran, kok bisa ya.. Mbah setua ini, kira-kira 70 tahunan, masih mengingatnya. Menurutku si Mbah ini perlu untuk disowani guna kepentingan pencatatan sejarah Desa. Aku jadi tahu ternyata masih ada saksi hidup yang bisa kita gali pengalamannya di masa kemerdekaan dulu.

Ibu bilang kalau si Mbah suka keliling jalan kaki ke rumah para saudaranya baik yang lebih tua maupun yang lebih muda. Hal itu dilakukan untuk menanyakan kabar anak cucunya. 

Lho kok si mbah yang keliling? Jalan kaki? Kok bukan anak cucunya yang menyambangi? Ini pertanyaan biasa tapi membuat nggak enak hati untuk dibahas. Entahlah hanya embah, anak dan cucunya yang tahu.

Coba, kita renungkan baik-baik. Kita sudah sedewasa ini, mengklaim diri sebagai orang yang baik, setia kawan dan perhatian. Apakah kita sudah bisa meniru hal yang dilakukan mbah. Sejak kecil kita dididik untuk saling menyayangi dan mengasihi kepada saudara juga teman-teman. 

Orang-orang yang dulu dekat dengan kita, akrab bahkan seakan saudara kandung kini tergantikan oleh orang baru. Kita memasuki hidup baru, dikelilingi oleh tetangga dan teman kerja. Lantas masihkah ada perhatian untuk mereka yang pernah mengisi waktu mula kita?

Kita terlalu sibuk pada urusan pribadi sehingga sedikit lupa kalau kita punya teman dan saudara yang perlu untuk dihubungi. Bagaimanakah keadaannya? Apakah baik-baik saja? Ataukah sedang tidak baik-baik saja?

Apa benar kita sangat sibuk? Padahal kita punya banyak kemudahan seperti telepon, kendaraan, uang, kesehatan, kesempatan dan sebagainya. Sungguh waktu memang hal yang sangat mahal dan berharga.

Berkaca pada hal itu aku berusaha menjaga tali silaturahmi. Jangan sampai tali itu terputus gara-gara terlalu lama tak bertegur sapa. Sehingga yang semula dekat kini menjadi bukan siapa-siapa. Kita harus punya inisiatif untuk mencoba menghubungi, datang, dan berbicara.

Dari silaturahmi aku jadi tahu kabar temanku, Nur. Dia adalah teman sewaktu kuliah. Sudah hampir dua tahun kami tak bertemu. Dan tiba-tiba dikabari bahwa Nur lepas menjalani operasi tenggorokan. Aih! Kasian!. 

Mendengar hal itu aku bersama teman lainnya menyempatkan waktu untuk membesuknya di rumah. Alhamdulillah, kondisinya sudah membaik. Hanya saja mendengar suaranya yang masih rendah aku jadi merasa iba. Namun, aku melihat sorot bahagianya melihat kedatangan kami. Semoga kedatangan kami bisa membuat hatinya lega dan memancing kesembuhannya.

Kita tak mungkin kita dapat mengunjungi semua orang, tapi setidaknya kita mulai melakukan hal baik, membangun hubungan, saling peduli, dan saling mendoakan. 

Aku percaya bahwa bertamu bisa menjadi obat dari kesusahan. Jadi semacam self healing. Kita melakukan perjalanan, sedikit berpayah, dan meluangkan waktu untuk bersilaturahmi. Di sana kita akan mendapat kebahagiaan tersendiri. Dan barangkali niat kebaikan ini menjadi jalan penggugur kejelekan dan dosa yang pernah kita lakukan. 

Bukankah kita tahu bahwa silaturami itu memanjangkan umur dan melancarkan rizki?

Terakhir saya kutip sabda Rosulullah Saw.

“Beribadahlah pada Allah SWT dengan sempurna, jangan syirik, dirikanlah sholat, tunaikan zakat, dan jalinlah silaturahim dengan orangtua dan saudara” ~ HR Bukhori

“Tidak ada dosa yang lebih pantas diegerakan balasannya bagi para pelakunya di dunia bersama dosa yang disimpan untuknya di akhirat daripada perbuatan zalim dan memutus tali silaturahmi” ~ HR. Abu Daud

Selasa, 19 Januari 2021

MENJUAL SEPEDA TUA




Pada pertengahan Mei 2018 Aku main ke rumah Sarep, Jepara. Dia adalah teman kuliahku yang kerap aku kunjungi. Baedowi, aku sedang tidak ingin ngomongin Sarep. Aku mau ngomongin salah satu kisah ajaib tentang sepeda tua. Ya ajaib banget karena berawal dari iseng aku jadi dapat rejeki nomplok. Penisirin kan? Yuk baca ceritanya.

Singkat cerita, baru saja tiba di rumah Sarep, aku curiga karena ban belakang motorku sedikit kempes, padahal ia adalah ban tubless yang konon katanya aman dari bocor. Namun, Sarep tidak menghiraukannya. Ya iyalah.. Kan aku yang punya motor. Kalau bocor aku ga bisa pulang dong, Malih..!!

Aku mencoba menenangkan pikiran, "Ah.. paling-paling cuma kempes biasa. Entar dipumpo juga balik normal". Kami pun menghabiskan malam dengan istirahat damai.

Besoknya ban motorku kempes.. pes.. dan mengeluarkan cairan kuning. Mungkin itu cairan buat penyumbat ban bocor otomatis. Karena itu kami membawanya di bengkel terdekat. 

Di sana Pak Tukang Tambal Ban (anggap aja namanya Paulus) bilang kalau ada masalah di pantil ban. Lalu Sarep menyarankan agar dikasih ban dalam saja. jadi balik kaya ban biasa. Aku masa bodoh soal hal itu karena mataku tertuju pada jejeran sepeda tua di sana.

"Ini punya orang apa dijual, Pak?", tanyaku.
"Dijual, Mas. Monggo kalau minat", jawabnya.

Padahal aku sama sekali tidak tertarik untuk membelinya. Atau lebih tepatnya aku tidak punya uang. wkwk. Enggak, ini serius. aku tidak tertarik dengan sepeda tua. Tapi saat itu otak bisnisku muncul. Sepertinya aku bisa menjualnya. Iseng saja sebenarnya.

Akupun bilang kalau ada saudara yang sedang kepengen beli sepeda. Lalu aku mohon ijin untuk memotretnya. Setelah itu aku pun mengunggahnya di fesbuk. (temen-temen di fesbuk sudah aku anggap sebagai sodara. ampuni aku ya allah..)

Ada tiga foto sepeda yang ku unggah. Wah, aku lupa merknya.. Pokoke dua berbau Eropa dan satunya lagi phoenix Cina. Tak butuh waktu lama ada orang dari Sayung yang mengingkannya. Dan setelah deal harga, aku menjemput sepeda tersebut dari Wedung ke Nalumsari, Jepara lalu membawanya ke Sayung.

Dua sepeda tersebut aku beli dengan harga 700rb dan aku jual segarga 1.250rb. Sumpah! ituu adalah salah satu pengalaman jual beli teriseng dalam hidupku. Meski bukan jumlah yang besar tapi ia datang di saat yang tepat. Saat di mana aku butuh uang untuk suatu hal.

Aku masih tidak percaya aku bisa melakukan transaksi barang secepat dan semudah itu. padahal Aku belum banyak punya pengalaman berdagang. Aku masih ragu dan merasa tidak berbakat dalam hal jual beli. Ada rasa malu, tidak percaya diri, dan sebagainya yang menghalangi.

Bagi mereka yang sudah biasa dalam berdagang mungkin itu hal receh, tapi bagi saya itu adalah debut penting. Ibarat pemain bola yang belum punya kesempatan main,  saya bisa bermain dan mencetak gol. 

Sejak saat itu aku bersemangat dalam hal jual beli. Aku masih ingat kata seorang teman, "Apapun itu kalau berbau uang, selagi halal maka jadikan uang". Aku pun belajar banyak sehingga punya mental berdagang dan melakukan penawaran.

DALAM GELAP

Dalam gelap kau gayuh cahayanya
Wemohon ampun sujud bersimpuh
Membasuh diri dari najis-najis duniawi
Luruh semua kesombongan jiwa
Singkirkan segala ketamakan harta
Kau hanya ingin berdua
Berdua dengan yang mahaesa
Mengadukan kesah berkepanjangan
Agar langkah tak berseberangan
Sujudmu adalah Cahayamu
Pembuka gerbang rahasia
Memohon dalam keheningan malam
Solo, 31-03-16