Sabtu, 20 September 2014

PENGARUH MUSIK NEGATIF




Oleh : M. Abdul Ghofur (1310320005)
Melihat anak-anak menyanyikan lagu buka sithik jos dengan gembira adalah hal yang biasa kita lihat saat ini. Namun, ketika mereka menyanyikannya dengan gerakan-gerakan yang tak pantas seperti menonjolkan pinggul ke depan (maaf) tentu membuat hati kita sebagai orang tua terenyuh miris. Memang tidak semua anak paham dengan maksud lirik maupun gerakan pengiring lagu tersebut. Akan tetapi, manusia senantiasa belajar. Lama kelamaan anak-anak akan tahu apa maksud lirik dan gerakan yang mereka lihat. Hal ini bukanlah hal yang sepele karena berkaitan dengan perkembangan psikis anak-anak kita.
Kasus seorang anak yang baru duduk di kelas 3 SD salah satu kota di Jawa Tengah berani membuka rok teman putrinya di kelas membuat hati kita tersentak. Bagaimana bisa si anak ini berlaku demikian? Padahal orang tua maupun gurunya tidak pernah mengajarkan hal buruk itu. Kalau kita menganggap mungkin ini hanya dari candaan anak-anak, lantas apakah ini candaan yang baik dan apakah kita membiarkannya?

STUDI ISLAM DENGAN PENDEKATAN SEJARAH



STUDI ISLAM DENGAN PENDEKATAN SEJARAH

Makalah disusun untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah : Metodologi Studi Islam
Dosen Pengampu :
Rofiq Faudy Akbar, M. Pd





Disusun Oleh:
Muhammad Abdul Ghofur (1310320005)
Taufiqur Rohman (1310320017)



PRODI PGMI
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
2013

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Kehadiran agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw diyakini dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin. Di dalamnya terdapat berbagai petunjuk tentang bagaimana seharusnya manusia itu menyikapi hidup dan kehidupan ini secara lebih bermakna dalam arti seluas-luasnya.[1]
Banyaknya aliran Islam yang tumbuh dan berkembang di suatu daerah tidaklah tercetak apa adanya, melainkan dengan pelbagai proses seperti akulturasi dan asimilasi. Banyak di antara budaya-budaya Islam yang masih tercium aroma hinduisme maupun budhisme yang merupakan hasil dari strategi dakwah Islam di masa lalu. Hal tersebut dapat diketahui dan dipelajari melalui pendekatan sejarah asal mulanya.

PERADABAN ISLAM; PENGAWAL KEMAJUAN PERIODE KLASIK



PERADABAN ISLAM;
PENGAWAL KEMAJUAN PERIODE KLASIK

Makalah ini disusun guna memenuhi
tugas akhir semester
Mata Kuliah : Sejarah Peradaban Islam
Dosen : Izah Ulya Qadam, M.Pd.I





Oleh :
Muhammad Abdul Ghofur
(1310320005)



PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
JURURSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
2014


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Semua produk peradaban besar selalu bersifat hibrida, yaitu terdapat berbagai keunggulan unsur dari peradaban lain. Istilah hibrida lazim digunakan dalam dunia tumbuh-tumbuhan untuk menemukan jenis unggul dengan cara mengawinkan dari jenis bibit pohon yang berbeda. Kebudayaan dan peradaban hibrida semakin berkembang subur di era global. Tetapi, sesungguhnya bagi Islam fenomena ini tidak asing. Dalam sejarahnya kebudayaan Islam pernah memiliki masa kejayaan sekitar abad ke-8 hinggake-12 dengan ditandai keterbukaannya menerima dan mengapresiasi budaya lain. Waktu itu Islam menjadi kekuatan dan model peradaban dunia yang tak tertandingi, yang warisannya masih sangat mudah disaksikan, antara lain secara fisik adalah bangunan-bangunan kuno di Spanyol. Bagi yang pernah jalan-jalan ke Alhambra dan Cordova di Spanyol lalu diteruskan menyeberang ke Maroko maka warisan masa lalu keunggulan peradaban Islam sangat nyata.[1]

PENGERTIAN USHUL FIQIH



PENGERTIAN USHUL FIQIH


Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata Ushul Fiqih
Dosen Pengampu : Hj. Istianah, MA


Disusun oleh :
M. Abdul Ghofur    (1310320005)



PROGRAM STUDI PGMI
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Pada Masa Rasululah Saw, dikisahkan dua sahabat sedang bepergian. Saat mereka hendak mengerjakan shalat, di sana tidak ditemukan air. Keduanya lalu bertayammum dengan debu yang suci dan melaksanakan shalat. Kemudian mereka menemukan air pada waktu shalat belum habis. Salah satu mengulang shalat sedangkan yang lain tidak. Keduanya lalu mendatangi Rasulullah Saw. dan menceritakan kejadian tersebut. Kepada yang tidak mengulang, Rasulullah bersabda: “Engkau telah memenuhi sunnah dan shalatmu mencukupi.” Kepada orang yang berwudlu dan mengulang shalatnya, Rasulullah saw. menyatakan: “Bagimu dua pahala.”
Al-Quran sebagai petunjuk bagi umat mengandung dasar-dasar akidah, akhlak, dan hukum. Penjelasan lebih lanjut diberikan oleh Rasulullah Saw dengan sunahnya sehingga sepanjang hidup beliau, hukum setiap kasus dapat diketahui berdasarkan nash al-Quran atau sunnahnya. Namun, setelah Rasul tiada, muncullah permasalahan-permasalahan yang baru dan tidak mudah untuk diselesaikan.
Sehubungan dengan perkembangan ilmu ushul fiqh yang telah digambarkan di atas, maka alangkah baiknya jika kita mengetahui lebih dalam tentang Fiqh dan Ushul Fiqh.

TEORI-TEORI ILMU PENDIDIKAN



TEORI-TEORI ILMU PENDIDIKAN


Makalah ini disusun guna memenuhi tugas
mata kuliah Ilmu Pendidikan
Dosen Pengampu : Zaenal Hafidhin,


Disusun oleh :
           M. Abdul Ghofur    (1310320005)
           Taufiqurrohman     (1310320018)



PROGRAM STUDI PGMI
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
2014



BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Banyak di antara kita yang beranggapan bahwa tabiat seseorang itu adalah faktor keturunan dari orang tua atau nenek moyangnya. Kecerdasan maupun kebodohan, kebaikan maupun kejelekan yang seseorang punyai berasal dari ayah maupun ibunya. Sementara itu, di lain pihak beranggapan bahwa tabiat seseorang terasah dari lingkungan tempat ia berada karena di situlah ia mengenyam pendidikan. Lingkungan yang mengajarkan ia nilai-nilai moral, nilai keindahan, norma, dan pengetahuan.
Lain lagi dengan suatu kaum yang bersikap preventif terhadap lingkungan (masyarakat). Kaum ini sangat berhati-hati dalam terjun ke dunia kemasyarakatan. Mereka khawatir jatidirinya akan dirusak oleh tabiat buruk masyarakat tertentu.
Lalu, muncullah titik temu dari ketiga di atas, yakni penyatuan pandangan atas pembentukan tabiat dalam pendidikan manusia.
Alangkah pentingnya kita berteori dalam praktek di lapangan pendidikan karena pendidikan dalam praktek harus dipertanggungjawabkan. Tanpa teori yang rasional yang konsisten dan saling berhubungan maka tindakan-tindakan dalam pendidikan hanya didasarkan atas alasan-alasan yang kebetulan, seketika, dan aji mumpung. Hal itu tidak boleh terjadi karena setiap tindakan pendidikan bertujuan menunaikan nilai yang terbaik bagi peserta didik dan pendidik. Bahkan pengajaran yang baik sebagai bagian dari pendidikan selain memerlukan proses dan alasan rasional serta intelektual juga terjalin oleh alasan yang bersifat moral. Sebabnya adalah manusia adalah makhluk yang harus mendalami nilai-nilai dan menata perilaku sesuai dengan harkat nilai-nilai yang dihayati itu. Sesuai ucapan Dr. Gunning yang dikutip Langeveld (1955). “Praktek tanpa teori adalah untuk orang idiot dan gila, sedangkan teori praktek hanya untuk orang-orang jenius”.